Tampilkan postingan dengan label About Banyuwangi. Tampilkan semua postingan
Golek" nang kene!!!!
Data Fisik Banyuwangi
Letak Geografis
Kabupaten Banyuwangi merupakan bagian yang paling Timur dari Wilayah Propinsi Jawa Timur, terletak diantara koordinat 7 43 8 46 Lintang Selatan dan 113 53 114 38 Bujur Timur dan dengan ketinggian antara 25 - 100 meter di atas permukaan laut. Kabupaten memiliki panjang garis pantai sekitar 175,8 km yang membujur sepanjang batas selatan timur Kabupaten Banyuwangi, serta jumlah pulau ada 10 buah.
Batas-batas wilayah Kabupaten Banyuwangi :
1.
UtaraKabupaten Situbondo dan Bondowoso
2.
TimurSelat Bali
3.
SelatanSamudera Indonesia
4.
BaratKabupaten Jember dan Bondowoso
Luas Kabupaten Banyuwangi 578.250 Ha atau 5.782,50 Km2 yang terdiri dari :
1. Hutan 183.396,34 Ha (31,72%)
a. Hutan Lindung 38.103,56 Ha
b. Hutan Produksi 79.851,53 Ha
c. Hutan Konservas
- Taman Nasional 63.835,00 Ha
- Cagar alam 1.514,25 Ha
- Taman Wisata 92,00 Ha
d.Hutan Kritis 0,00 Ha
2. Persawahan / Sawah 66.647,00 Ha (11,53%)
- Sawah Irigasi Teknis 64.469,00 Ha
- Sawah Irigasi Teknis 1.914,00 Ha
- Sawah Irigasi Sederhana 292,00 Ha
- Sawah Tadah Hujan 0,00 Ha
3. Lahan Kering 225.382,09 Ha
- Tegalan 16.215,33 Ha
- Kebun Campuran 2.161,10 Ha
- Perkebunan Rakyat 31.249,00 Ha
- Perkebunan Besar 48.395,21 Ha
- Pemukiman 125.240,95 Ha (21,66%)
- Tambak 1.782,50 Ha
- Tanah Rusak / Tandus 338,00 Ha
4. Lain-lain 102.796,57 Ha *
Kota Banyuwangi sebagai ibu kota Kabupaten Banyuwangi berada di koordinat 8o1320,19 S dan 114o2159,63E (Kantor Pemkab Banyuwangi) dapat dicapai melalui :
1.Lewat darat dari arah selatan Banyuwangi, via bus dari Jakarta Surabaya Jember Banyuwangi
(Turun di Terminal Brawijaya, Karangente).
2.
Lewat darat dari arah utara Banyuwangi, via bus dari Jakarta Surabaya Situbondo Banyuwangi
(Turun di Terminal Induk Sritanjung Ketapang).
3.Lewat darat, via Kereta Api dari Jakarta Surabaya Banyuwangi (Dapat turun di Stasiun Karangasem,
Stasiun Argopuro dan terakhir stasiun Banyuwangi Baru Ketapang)
4.
Lewat darat, via bus dari Denpasar Gilimanuk Banyuwangi.
5.Lewat Udara (masih dalam Tahap Pembangunan Lapter Blimbingsari), kurang lebih 15 menit perjalanan
ke Pusat Kota Banyuwangi.
Apabila para Tamu Masyarakat Banyuwangi ini sudah sampai di titik titik pemberhentian angkutan transportasi (terminal), disana sudah tersedia berbagai angkutan dalam kota yang siap setiap saat antara lain Lin Kota, Taxi argo dll.
Pengrajin batik dan galery batik Banyuwangi dapat ditemui di :
-
VIRDES COLLECTION
Toko penjualan dan sentra industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan menghasilkan 3.000 M. Terletak di Dsn. Simbar Rt.01 Rw.II Ds. Tampo Kec. Cluring. Telp. (0333) 394214
-
TIRTA WANGI
Toko penjualan industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan menghasilkan 2.550 M. Terletak di Jl. Agung Wilis Banyuwangi
-
SRI TANJUNG
Toko penjualan industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan dapat menghasilkan 2.550 Meter. Terletak di Jl. Tarakan 13 Banyuwangi. Telp. (0333) 41506 - 423313
-
SAYU WIWIT
Toko penjualan industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan dapat menghasilkan 7.500 M. Terletak di Jl. Sidopekso Kel. Temenggungan Kec. Banyuwangi. Telp. (0333) 422642
VIRDES COLLECTION
Toko penjualan dan sentra industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan menghasilkan 3.000 M. Terletak di Dsn. Simbar Rt.01 Rw.II Ds. Tampo Kec. Cluring. Telp. (0333) 394214
-
TIRTA WANGI
Toko penjualan industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan menghasilkan 2.550 M. Terletak di Jl. Agung Wilis Banyuwangi
-
SRI TANJUNG
Toko penjualan industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan dapat menghasilkan 2.550 Meter. Terletak di Jl. Tarakan 13 Banyuwangi. Telp. (0333) 41506 - 423313
-
SAYU WIWIT
Toko penjualan industri Batik Khas Banyuwangi. Dalam sebulan dapat menghasilkan 7.500 M. Terletak di Jl. Sidopekso Kel. Temenggungan Kec. Banyuwangi.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 7 komentar
P. Tabuhan Riwayatmu.....
Wah, harus bangga atau gimana nih.
P. Tabuhan diakui kecantikannya oleh wisatawan asing.
Tapi ko' mw di sewa ya...
Hmmm....
Sedikit cerita asal muasal P. Tabuhan dan kenapa dinamakan P. Tabuhan.
Menurut nelayan disekitar, P. Tabuhan aslinya bernama P. Menjangan (karena disana banyak terdapat Menjangan/Kijang. Karena di setiap malam Jum'at Legi (Menurut kepercayaan nelayan sekitarnya)sering terdengar tabuh-tabuhan dari gamelan yang dipakai untuk mengiringi tari-tarian. Dari kejadian itulah disebut P. Tabuhan yang berasal dari kata tabuh-tabuhan (Bunyi-bunyian.
P. Tabuhan sendiri terletak di Selat Bali. Tapi termasuk wilayah Banyuwangi karena terletak di sebelah timur Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo Kota Banyuwangi sebelah utara.
P. Tabuhan merupakan pulau yang tidak berpenghuni. Keadaan alamnya masih alami. Keindahan alamnya masih belum terjamah tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.
Tapi sayangnya, mengapa harus orang asing yang akan menikmati keindahan pulau yang belum terjamah ini. Kemanakah LAROS yang akan mempertahankan kekayaan alam Banyuwangi.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 1 komentar
Lirik Lagu Umbul-Umbul Blambangan
UMBUL-UMBUL BLAMBANGAN
Lagu&Arr : BS. NOERDIAN
Lirik : ANDANG CY
Dipopulerkan oleh Bupati Banyuwangi (Samsul Hadi)
Bul-umbul Belambangan 3x
Umbul-umbul Belambangan eman…
He umbul-umbul he Belambangan 2x
Belambangan, Belambangan
Tanah Jawa pucuk wetan
Sing arep bosen sing arep bosen
Isun nyebut-nyebut aran ira
Belambangan, Belambangan
Membat mayun Paman
Suwarane gendhing Belambangan
Nyerambahi nusantara
Banyuwangi… kulon gunung wetan segara
Lor lan kidul alas angker
keliwat-liwat
Belambangan.. Belambangan
Aja takon seneng susah kang disangga
Tanah endah… gemelar ring taman sari nusantara
He.. Belambangan… He Belambangan
Gemelar ring taman sari nusantara
Belambangan he seneng susahe wistah aja takon
Wis pirang-pirang jaman turun temurun yong wis kelakon
Akeh prahara taping langitira magih biru yara
Magih gedhe magih lampeg umbak umbul segaranira
Belambangan he.. gunung-gunungira magih perkasa
Sawah lan kebonanira wera magih subur nguripi
Aja kengelan banyu mili magih gedhe seumberira
Rakyate magih guyub ngukir lan mbangun sing mari-mari
He Belambangan lir asata banyu segara
Sing bisa asat asih setya baktinisun
Hang sapa-sapa baen arep nyacak ngerusak
Sun belani sun dhepani sun labuhi
Ganda arume getih Sritanjung yong magih semebrung
Amuke satria Menakjingga magih murub ring dhadha
Magih kandel kesaktenane Tawang Alun lan Agung Wilis
Magih murub tekade Sayuwiwit
Lan pahlawan petang puluh lima
Ngadega jejeg … ngadega jejeg
Umbul-umbul Belambangan
Ngadega jejeg adil lan makmur
Nusantara…………
Banyuwangi, 1974
Posted in About Banyuwangi, Musik by Vindie Caroline | 11 komentar
Badai Ilsa Melanda Banyuwangi

Gara-gara badai satu ini, Pelabuhan Ketapang di tutup beberapa jam tiap harinya. Pada tanggal 18 Maret 2009 penyeberangan Ketapang yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Bali ini ditutup sekitar 5 jam dari pukul 13.50 WIB sampai 16.45 WIB. Karena kecepatan angin menembus angka 40-50 kilometer per jam.
Bahkan sebuah tugboat dan tongkang penarik batu bara sempat karam di perairan Selat Bali karena dihajar angin dan gelombang tinggi
Emang apa sih Badai Ilsa itu?
Badai Ilsa itu adalah siklon tropis atau badai yang memiliki kecepatan hingga 31 kilometer per jam ke arah barat daya. Badai ini hanya muncul pada bulan Maret. Berdasarkan pantauan citra-satelit, badai ini berada di koordinat 135,5 LS-113,4 BT. Tepatnya berada di selatan hingga barat daya atau 560 kilometer selatan Denpasar. Sementara di sekitar siklon tropis tersebut, kecepatan angin bisa mencapai 65 kilometer bahkan lebih.
Imbas badai Ilsa ini akan mempengaruhi cuaca di Banyuwangi dan sekitarnya. Salah satunya adalah munculnya angin kencang dan tingginya gelombang air laut. Di samudera Hindia, ketinggian ombak diperkirakan akan mencapai lebih dari dua meter, sedangkan di Selat Bali tinggi gelombang berkisar antara 0,8 meter hingga 1,5 meter.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 11 komentar
Makna Lambang Daerah Banyuwangi

Makna Lambang Kabupaten Banyuwangi
MAKNA BENTUK LAMBANG
1. DAUN LAMBANG BERBENTUK PERISAI, di tengah- tengah lambang berdiri tegak lurus garis berwarna
putih membelah dasar lambang secara simetris menjadi dua bagian sebelah kiri warna hitam, bagian sebelah kanan warna hijau.
2.
DALAM LAMBANG TERTULIS PETA KABUPATEN BANYUWANGI, dengan dibatasi oleh gambar padi
berbutir 17 sebelah kanan dan 8 buah kapas sebelah kiri. Selat Bali dan Samudra Indonesia serta Kawah Ijen dilukiskan dengan warna biru.
3. DI BAGIAN ATAS TENGAH, yakni di atas Peta Kabupaten Banyuwangi terlukiskan sebuah bintang
bersudut lima dengan warna kuning emas melekat pada garis tegak lurus tersebut di atas. Bintang tersebut bersinar lima.
4.
PITA KUNING, menghiasi bagian bawah dengan berisikan tulisan B A N Y U W A N G I, dengan warna
merah.
5.
PITA PUTIH SEBAGAI DASAR, pada bagian bawah di luar daun lambang dengan berisikan tulisan
SATYA BHAKTI PRAJA MUKTI, berwarna hitam, yang menyatu garis tepi perisai.
MAKNA BAGIAN-BAGIAN LAMBANG
1. DAUN LAMBANG BERBENTUK PERISAI, adalah lambang keamanan dan ketentraman serta kejujuran
melambangkan dasar dan keinginan hidup rakyat Kabupaten Banyuwangi.
2.
BINTANG DENGAN WARNA KUNING EMAS, adalah lambang Ketuhanan Yang Maha Esa, bersudut lima
dan bersinar lima dengan garis tegak berarti berdiri tegak atas dasar Pancasila yang merupakan dasar dan falsafah Negara yang senantiasa dijunjung tinggi serta selalu menyinari jiwa rakyat Kabupaten Banyuwangi. Bintang bersinar lima menyinari Peta Kabupaten Banyuwangi, padi dan kapas.
3.
PADI DAN KAPAS, lambang sandang pangan yang menjadi kebutuhan pokok rakyat sehari-hari,
gambar padi berbutir 17 buah dan kapas 8 buah melambangkan saat-saat kramat bagi Bangsa Indonesia yaitu tanggal 17 Agustus 1945.
4.
PETA KABUPATEN BANYUWANGI, yang terdapat banyak sungai-sungai dilukiskan warna kuning dan
hijau serta di lingkungan Selat Bali dan Samudra Indonesia melambangkan sumber kemakmuran daerah.
5.
PITA BERISIKAN TULISAN BANYUWANGI, menunjukkan Daerah Kabupaten Banyuwangi.
6.
PITA DASAR DENGAN WARNA PUTIH, berisikan tulisan SATYA BHAKTI PRAJA MUKTI menunjukkan
makna selalu mengabdi kepada kebenaran demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 1 komentar
Tata Busana Tari Gandrung

Tata busana penari Gandrung Banyuwangi khas, dan berbeda dengan tarian bagian Jawa lain. Ada pengaruh Bali (Kerajaaan Blambangan) yang tampak.
Bagian Tubuh
Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya. Selendang selalu dikenakan di bahu.
Bagian Kepala
Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung. Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung. Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini.
Selanjutnya pada mahkota tersebut diberi ornamen berwarna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari seolah bulat telur, serta ada tambahan ornamen bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya. Sering kali, bagian omprok ini dipasang hio yang pada gilirannya memberi kesan magis.
Bagian Bawah
Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi. Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya.
Lain-lain
Pada masa lampau, penari gandrung biasanya membawa dua buah kipas untuk pertunjukannya. Namun kini penari gandrung hanya membawa satu buah kipas dan hanya untuk bagian-bagian tertentu dalam pertunjukannya, khususnya dalam bagian seblang subuh.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 3 komentar
SITUS-SITUS Di BUMI BLAMBANGAN
- Makam-Makam Bupati Banyuwangi
Barat pengimaman masjid Baiturrohman terdapat makam-makam bupati Banyuwangi antara lain : Wiroguno II (1782-1818), Suronegoro (1818-1832), Wiryodono Adiningrat (1832-1867), Pringgokusumo (1867-1881), Astro Kusumo (1881-1889), sedangkan Bupati pertama Banyuwangi Mas Alit (1773-1781) gugur dan dimakamkan di Karang Asem Sedayu. Hanya bajunya saja yang dikebumikan di taman pemakaman tersebut.
- Masjid Jami’ Baiturrohman
Tanah wakaf dari masa (Wiroguno I) yang direhap pertama kali pada masa Raden Tumenggung Pringgokusumo. Dulu terdapat kaligrafi bertuliskan Allah Muhammad yang ditulis oleh Mas Muhammad Saleh dengan pengikutnya Mas Saelan. Mulai tahun 2005 sampai sekarang Masjid ini masih dalam tahap renovasi dan akan menjadi salah satu aikon Banyuwangi setelah selesai di renovasi.
- Sumur Sri Tanjung
Ditemukan pada masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920). Terletak di timur Pendopo Kabupaten. Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-menurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi.
Konon jika sewaktu-waktu air sumur berubah bau menjadi wangi maka itu akan menjadi suatu pertanda baik / buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini.
- Musium Blambangan
Berlokasi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Awalnya didirikan oleh Bupati Banyuwangi Djoko Supaat Selamet yang berkuasa pada tahun (1966-1978) di kompleks pendopo Kabupaten Banyuwangi namun pada tahun 2004 Musium direlokasikan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi hingga sekarang.
Koleksi yang dimiliki oleh museum antara lain: Berbagai macam kain batik, contoh rumah adat using Banyuwangi, kain-kain dari masa lampau, replica seni musik angklung, aneka macam senjata perang, alat-alat musik peninggalan Belanda, dan yang paling menarik perhatian pengunjung untuk melihat replica Barong dan penari Gandrong yang menjadi simbol Kota Banyuwangi
- Sonangkaryo
Sonangkaryo adalah umbul-umbul kerajinan Blambangan, menurut Mishadi hasil wawancara dengan Sayu Darmani (Tumenggungan) bahwa ibunya yang bernama Sayu Suwarsih telah lama menyimpan Sonangkaryo tersebut, namun ketika dirasa tidak kuat lagi mengemban amanah tersebut, maka dibuanglah satu kotak pusaka yang berisi umbul-umbul Sonangkaryo, Cemeti, dan Lebah penari musuh.
- Tugu TNI 0032
Taman Makam pahlawan yang terletak di bibir pantai Boom merupakan pertempuran tentara laut NKRI yang dipimpin oleh Letnan Laut Sulaiman melawan AL, AD, dan AU Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Tugu tersebut disahkan oleh Presiden RI yang pertama yaitu Bung Karno.
- Benteng Ultrech (Kodim)
Berada di batas selatan markas Kodim, dulu terdapat rumah nuansa Portugis yang dijadikan sebagai tempat pengintaian Balanda terhadap gerak-gerik orang Blambangan di pendopo pada masa pemerintahan Mas Alit.
- Inggrisan
Dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1766-1811, yang luasnya sekitar satu hektar, merupakan markas yang dulunya bernama Singodilaga, kemudian diganti dengan nama Loji (Inggris = Lodge, artinya penginapan / pintu penjagaan) yang disekitarnya dibangun lorong-lorong terhubung dengan Kali Lo (Selatan), dan Boom (Timur) akhirnya diserahkan kepada Inggris setelah Belanda kalah perang (Sumber Java’s Last Frontier, Margono. 2007),selatan berupa perkantoran yang disebut Bire (Sekarang Telkom) dan kantor pos, di daerah tersebut pernah terjadi peristiwa yang hamper mirip dengan peristiwa di hotel Yamato, Surabaya, yaitu orang-orang Blambangan dengan berani merobek bendera belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah putih saja.
Depan Inggrisan terdapat Tegal Loji, selatannya adalah perkampungan Belanda (Kulon dam), timurnya adalah Benteng Ultrech dan tempat penimbunan kayu gelondongan (sekarang Gedung Wanita) sebelah utara dulu sebagai kantor regent dan garasi kuda mayat (sekarang Bank Jatim) dan perumahan Kodim sekarang, dulu adalah markas polisi Jepang / kompetoi lalu jaman Belanda dijadikan perumahan svout.
- Makam Datuk Malik Ibrahim
Salah satu Waliyullah keturunan Arab Saudi yang banyak di kunjungi peziarah dari dalam dan luar Banyuwangi terletak di Desa Lateng Banyuwangi.
- Konco Hoo Tong Bio
Terletak di Pecinan kecamatan kota Banyuwangi pada waktu terjadi pembantaian orang-orang Cina oleh VOC di Batavia, seorang yang bernama Tan Hu Cin Jin dari dratan Cina yang menaiki perahu bertiang satu.
Perahu tersebut kandas di sekitar pakem dan Tan Hu Cin Jin memutuskan menetap di wilayah Banyuwangi. Untuk mengenang peristiwa tersebut, didirikanlah klenteng Hoo Tong Bio.
Setiap tanggal 1 bulan Ciu Gwee (kalender cina), pada tengah malam sebelum tahun baru diadakan sembahyang bersama. Dalam acara tahun baru Imlek kesenian barong Said an Kong-kong ditampilkan, kemudian ada sebuah acara yang disebut Cap Go Mee dirayakan pada hari ke 15 sesudah tahun baru Imlek, dengan mengarak patung yang Maha Kong Co Tan Hu Cin Jin keliling disekitar kampung pecinan. Hal ini dimaksud kan untuk menolak bala’ dan mengharap berkah kepada Tuhan. Acara ini dimiriahkan dengan tarian barongsai dan berbagai kesenian daerah lainnya. Makanan khas yang disajikan adalah lontong Cap Go Mee.
Tak hanya itu, Hari ulang tahun tempat ibadah Tri Dharma “Hoo tong Bio” yang dibangun pada tahun 1781, ucapan itu bertujuan untuk memperingati kebesaran yang mulia Kong Co Tan Hu Cin Jin dan biasanya doadakan pd tanggal 27 Agustus.
- Watu Dodol
Sebuah batu besar terletak di daerah ketapang yang pernah ditarik oleh kapal Jepang, pernah dijadikan benteng pertahanan Jepang pada masa perang dunia II, dan pada maa setelah kemerdekaan dijadikan tempat pendaratan Belanda antara lain 14 April 1946 yang mendapatkan perlwanan orang Banyuwangi dibawah kepemimpinan Pak Musahra (orang tua dari Lurah Astroyu), 20 Juli 1946 Belanda mendapatkan perlawanan dari Yon Macan Putih yang dipimpin oleh Raden Abdul Rifa’I dan Letnan Ateng Yogasana, 21 Juli 1947, Yon Macan Putih yang berhasil menenggelamkan kapal dan tengker milik Belanda.
Sejak dahulu kala tempat ini dijadikan tempat Upacara Agama Hindu yaitu Jala Dipuja / Melasti / Melayis yang di maksud untuk memohon anugerah dari penguasa laut, pelaksanaannya bertepatan pada saat mentari bergeser ke Utara khatulistiwa sebelum datangnya hari raya Nyepi.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang memberkati umatnya dengan cara mencipratkan “Tirta Suci” yaitu air suci yang diambil dari sumur pitu (tujuh sumber air). Beberapa sesaji diarak ke laut atau di mata air.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Seblang Bakungan Dance
The purpose of this performance is the same as the Seblang Olehsari. However, the performance is shorter; Seblang Bakungan is performed for only one night. It is organized after one night of Idul Adha (an Islamic holiday). Seblang Bakungan is performed after the evening prayer. The people parade around the village carrying torches. An old woman dances in the Seblang Bakungan in front of Sanggar (a small stage used as a place for some seeds). After being put into a trance, the dancer is possessed by the Seblang spirit. She dances while following the tone of the music and the songs. There are 12 songs in the performance. The songs tell about the rebellion against the Dutch colonialists. The performance finishes in the middle of the night after the performance of “Adol Kembang” (selling flowers). The spectators, then, snatch away the seeds, plants and wind mill on the stage which is called “sanggar”.
Patrol Traditional Performance
Patrol is the typical ethnic music of Banyuwangi where all the musical instruments are made of Bamboo. They are katir, gong kemput, angklung renteng, kethuk, kendhang and flute. This composition is a culture activity of the native Banyuwanginese. The patrolis is performed during a night of the fasting month (Ramadhan:based on the calendar of Islam). The main purpose of the performance is to guard the village and wake the people up to eat sahur. The songs are taken from the Kitab Berjanji and are traditional songs of Banyuwangi. Groups from all of the villages in Banyuwangi participat in the festival of Patrol Music. A musical group is comprise of 15 persons.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Seblang Olehsari Dance
Seblang is a village ceremony to ward off misfortune which is called seblang. The Seblang Olehsari is performed for seven days. A virgin girl dances in a trance during the performances. She dances while 28 songs are sung by several sindens, the singers in the performance.
Seblang Olihsari dance is Seblang dance that held in Olihsari village. This dance usually held a week after Id Fitr. The dancers of Seblang Olihsari dance must young girls. The music instruments of Olihsari Seblang are a kendang, a kempul or gong, two saron and viola. Its costumes made of banana wicker till covered the dancer’s face, while up part are fresh flowers and add with a small mirror located in the middle of Omprok.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Tirta Wangi

Tidak asing lagi bagi masyarakat Banyuwangi. Taman kebanggan yang terletak di sebelah selatan Kota Banyuwangi. Tepatnya di dekat Polres Banyuwangi dan terminal Karangente. Terdapat pula monumen Tirta Wangi yang dilambangkan oleh Kereta Kencana Srikandi yang ditarik oleh 6 kuda.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 1 komentar
Perang Bangkat
Masyarakat asli Banyuwangi punya cara unik dalam melangsungkan prosesi pernikahan. Mereka selalu melakukan tradisi perang bangkat. Tapi, jangan salah perangnya tidak seperti Perang pangeran Diponegoro dengan cara gerilya ataupun Perang Arek-arek Suroboyo menumpas Sekutu. Perangnya sebagai berikut.
”Soraaaak......, ayo maju!” tegas ketua rombongan mempelai pria saat berjalan mendekati rumah pengantin putri. Dengan membawa berbagai kebutuhan rumah tangga, iring-iringan rombongan mempelai pria itu terus bergerak. Setiba di dekat rumah pengantin putri, mereka dihadang oleh jambangan (terpasang selembar kain jarit yang diibaratkan sebagai gerbang).
Dari dalam gerbang, salah satu keluarga pengantin putri yang jadi penjaga gerbang menanyakan keperluan datangnya rombongan tidak dikenal itu. Begitu dijawab bahwa maksud kedatangannya adalah melamar sang putri, penjaga gerbang itu langsung ma rah dan menolak mereka. ”Kami akan tetap melamar sang putri,” tegas ketua rombongan pengantin pria.
Penjaga gerbang dan ketua rombongan pengantin putri, sempat adu mulut. Hingga akhirnya, keduanya bertarung (perang) dengan menggunakan berbagai senjata. Tapi senjatanya bukan senjata yang lazim digunakan untuk berperang. Mereka menggunakan senjata alat dapur seperti irus (sendok untuk kuah), siwur (gayung), kelapa, telur dan bahkan ayam hidup. Dalam perang ini, pihak penjaga gerbang ternyata kalah. ”Kalau begitu, lamaran saya terima. Tapi, kami minta syarat,” pinta penaga gerbang itu.
Sebagai syarat, ketua rombongan lalu menyerahkan berbagai ’upeti’ seperti kasur dan bantal, kembang pancawarna, wanci kinangan, wanci kendi, dan sebagainya. ”Semua ini, kami serahkan untuk sang putri sebagai syarat,” cetus ketua rombongan mempelai pria. Perang bangkat diakhiri dengan dipertemukan pasangan pengantin. Keduanya diminta untuk bersalaman sambil didoakan oleh sesepuh suku Using. Prosesi ini mirip dengan proses ijab dan kabul. Tapi bukan ijab dan kabul lho!!! Ini hanya tradisi.
Sekilas pelaksanaan perang bangkat yang menjadi tradisi khusus suku Using pada pernikahan. Dalam upacara itu, peran ketua rombongan dan penjaga gerbang dilakukan sesepuh Suku Using yang dianggap memiliki kelebihan tertentu.
Pernikahan yang diharuskan melaksanakan tradisi eprang bangkat ini, ternyata hanya berlangsung dalam kondisi tertentu saja. Bila kedua pasangan pengantin itu sama-sama anak sulung atau bungsu, maka perang bangkat harus dilaksanakan, atau sulung dapat anak bungsu.
Upacara tradisi perang bangkat ini, semuanya berupa simbol-simbol. Alat perang berupa irus, siwur, kelapa dan telur menjadi simbol agar pasangan pengantin ini bisa langgeng. ”Irus” maksudnya pasangan pengantin harus terus sampai kakek-nenek hingga meninggal, sedang ”siwur” itu maksudnya kalau ngomong jngan ngawur (asal).
Entah sejak kapan upacara atau ritual perang bangkat dilaksanakan, yang jelas prosesi ini sudah menjadi tradisi turun temurun. Perang bangkat ini diibaratkan seperti tolak balak, kalau tidak melakukan biasanya pasangsan pengantin akan banyak godaan dan rintangan.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Barong Ider Bumi

Barong Ider Bumi merupakan salah satu upacara adat tahunan yang dilakukan masyarakat suku Using, Banyuwangi. Ritual ini masih sering diadakan di desa adat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi. Kegiatan Barong Ider Bumi ini rutin diadakan setiap tahun, biasanya dilaksanakan dua hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Iring-iringan barong itu diarak keliling kampung dengan dikawal tujuh perempuan tua yang membawa ubo rampe (perkakas ritual). Kirab barong itu juga disertai lima perempuan pembawa beras kuning dan uang Rp. 99.900. Ada juga dua perempuan pembawa kendi.
Menurut tetua adat Kemiren, Barong Ider Bumi sudah berlangsung sejak tahun 1940. Pelaksanaannya serba dua, karena kekuatan pelestarian alam ada dua. Baik dan buruk, wanita dan laki-laki.
Asal muasal adanya Barong Ider Bumi berawal dari adanya wabah pagebluk (penyakit) dan bencana yang melanda Kemiren. Setelah itu, tetua adat di Desa Kemiren mendapat wangsit melalui mimpi Buyut Cili (yang merupakan tetua adat Kemiren terdahulu). Dikatakan bahwa untuk menghilangkan pagebluk itu harus dilaksanakan Barong Ider Bumi.
Dalam iring-iringan Barong Ider Bumi diharuskan ada ”barong” sebagai lambang persatuan, ”uang koin” sebagai pengusir lelembut, dan ”sembur uthik-uthik” beras kuning sebagai pelengkap.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Jenis Batik Banyuwangi
Tak banyak orang yang tahu, bahwa sejatinya Banyuwangi merupakan salah satu daerah asal batik di Nusantara. Banyak motif asli batik khas Bumi Blambangan. Namun hingga sekarang, baru 21 jenis motif batik asli Banyuwangi yang diakui secara nasional.
Jenis-jenis batik Banyuwangi itu salah satunya antara lain:
1. Gajah Uling
2. Kangkung Setingkes
3. Alas Kobong
4. Paras Gempal
5. Kopi Pecah
6. Gèdèkan
7. Ukel
8. Moto Pitik
9. Sembruk Cacing
10. Blarak Semplah
11. Gringsing
12. Sekar Jagad
Semua nama motif dari batik asli Bumi blambangan ini ternyata banyak dipengaruhi oleh kondisi alam. Misalnya, Batik Gajah Uling yang cukup dikenal itu, motifnya berupa hewan seperti belut yang ukurannya cukup besar. Motif Sembruk Cacing juga motifnya seperti cacing dan motif Gedegan juga kayak gedeg (anyaman bambu). Motif-motif batik yang ada ini merupakan cerminan kekayaan alam yang ada di Banyuwangi. Motif batik seperti di Banyuwangi ini tidak akan ditemui di daerah lain dan merupakan khas Banyuwangi.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 4 komentar
HARJABA KE 237
RANGKAIAN KEGIATAN PERINGATAN HARI JADI BANYUWANGI KE 237 TAHUN 2008
| Tanggal Pelaksanaan | Nama Kegiatan | Tempat |
| 10 s/d 17 Des ‘08 | Ø Ø Pameran Seni dan Budaya Ø Pameran Lukisan Ø Pameran Produk | GOR Tawangalun |
| 13 Des ‘08 | Diskusi dan Sarasehan Budaya | Disbudpar |
| 13-14 Des ‘08 | MTQ | - Masjid Agung Baiturrahman - Masjid A. Dahlan - Masjid Aroyyan - Masjid Al Hadi - Masjid Baitul Muttaqim - Aula Depag Kab. Bwi |
| 13 Des ‘08 | Istigosah dan Renungan Suci | Wana Wisata Rowo Bayu |
| 13 Des ‘08 | Pemilihan Jebeng Thulik 2008 | Gesibu Blambangan |
| 14 Des ‘08 | Napak Tilas Perang Puputan | Wana Wisata Rowo Bayu |
| 15-17 Des ‘08 | Seni dan Budaya (Pentas Hiburan) | Gesibu Blambangan Banyuwangi |
| 18 Des ‘08 | Upacara | |
| 18 Des ‘08 | Pelangi Budaya | Depan Kantor Bupati Banyuwangi |
| 18 Des ‘08 | Resepsi | Pendopo Kab. Banyuwangi |
| 20-22 Des ‘08 | Lomba Menyanyi | Disbudpar |
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 1 komentar
Banyuwangi, Budaya Khas Osing
Banyuwangi adalah kabupaten terluas di Jawa Timur. Karakter wilayah yang terletak di ujung paling timur Pulau Jawa ini juga menarik untuk di ketahui selain wilayah tapal kuda dan wilayah arek.
Karakter Banyuwangi lebih kurang bisa dilihat dari makanan khasnya. Rujak itu dari Sidoarjo sedangkan Soto dari Madura. Disini rujak dan soto dicampur, jadilah rujak soto khas Banyuwangi. Atau pecel dicampur rawon jadilah pecel rawon yang cuma ada di Banyuwangi.
Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Suku Osing merupakan perpaduan budaya dan tradisi yang ada di Banyuwangi.
Topografi Banyuwangi yang unik didukung oleh kekuatan karakter masyarakat multikultur yang jumlahnya sekitar 1,5 juta jiwa dan tersebar diwilayah seluas 5.782,50 km2. Ada tiga elemen masyarakat yang secara dominan membentuk stereotype karakter Banyuwangi yaitu Jawa Mataraman, Madura – Pandalungan ( Tapal Kuda ) dan Osing.Persebaran tiga entitas ini bisa ditelisik dengan karakter wilayah secara geografis yaitu Jawa Mataraman lebih banyak mendominasi daerah pegunungan yang banyak hutan seperti wilayah Tegaldlimo, Purwoharjo, Bangorejo dan Tegalsari. Sedangkan masyarakat Madura lebih dominan didaerah gersang seperti di kecamatan Wongsorejo, Muncar dan Glenmore. Sementara masyarakat Osing sendiri dominan di wilayah subur di sekitar Banyuwangi kota, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring dan Genteng.
Walaupun menjadi etnis khas Banyuwangi, secara proporsi, penduduk suku Osing bukan mayoritas di 24 kecamatan. Tidak ada data pasti yang menyebutkan berapa jumlah suku Osing di Banyuwangi. Namun sebagai gambaran, jumlah warga Osing sekitar 20 % dari total populasi. Terbanyak Jawa ( 67 % ) dan sisanya Madura ( 12 % ) dan suku lain ( 1 % ).
Meski berkelompok dalam kantong wilayah tertentu, masyarakat Osing tidak bersifat ekslusif seperti masyarakat Tengger yang hidup di dataran tinggi Tengger ( dekat gunung Bromo ) atau masyarakat Baduy di Banten. Osing sangat adaptif, terbuka dan kreatif terhadap unsur kebudayaan lain.
Karakter egaliter menjadi ciri yang sangat dominan dalam masyarat Osing. Ini tampak dalam bahasa Osing yang tidak mengenal tingkatan bahasa seperti bahasa Jawa atau bahasa Madura. Struktur masyarakat Osing pun tidak berorientasi pada priayi seperti orang Jawa juga tidak pada kyai seperti orang Madura dan tidak juga pada Ksatria seperti kasta orang Bali. Masyarakat Banyuwangi mayoritas beragama Islam, tetapi karakter sinkretisme agama dan budayapun kental.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 12 komentar
Sejarah Suku Using
Sejarah Suku Using
Sejarah Suku Using diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Setelah kejatuhannya, orang-orang majapahit mengungsi ke beberapa tempat, yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger), Blambangan (Suku Using) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Using yang masih menyiratkan budaya Majapahit. Kerajaan Blambangan, yang didirikan oleh masyarakat Using, adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan, hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Using mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa, termasuk halnya tentang bahasa. Suku Using mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali, hal ini sangat terlihat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya, termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Using dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan, terutama pada hiasan di bagian atap bangunan.
Jumlah dan Wilayah Persebaran
Jumlah penduduk asli Banyuwangi yang acap disebut sebagai "Lare Using" ini diperkirakan mencapai 500 ribu jiwa dan secara otomatis menjadi pendukung tutur Bahasa Jawa Using ini. Penutur Bahasa Jawa-Osing ini tersebar terutama di wilayah tengah kabupaten Banyuwangi, terutama kecamatan-kecamatan sebagai berikut :
• Kabat
• Rogojampi
• Glagah
• Kalipuro
• Srono
• Songgon
• Cluring
• Giri
• sebagian kota Banyuwangi
• Gambiran
• Singojuruh
• sebagian Genteng
• Licin
Sedangkan wilayah lainnya adalah wilayah tutur campuran baik Bahasa Jawa ataupun Bahasa Madura. Selain di Banyuwangi, penutur bahasa ini juga dapat dijumpai di wilayah kabupaten Jember, terutama di Dusun Krajan Timur, Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, Jember. Namun dialek Osing di wilayah Jember ini telah banyak terpengaruh bahasa Jawa dan Madura disamping dikarenakan keterisolasiannya dari daerah Using di Banyuwangi.
Sistem Pengucapan atau Fonologi
Bahasa Jawa Using mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:
Adanya diftong [ai] untuk vokal [i] : semua leksikon berakhiran "i" pada bahasa Jawa Osing khususnya Banyuwangi selalu terlafal "ai". Seperti misalnya "geni" terbaca "genai", "bengi" terbaca "bengai", "gedigi" (begini) terbaca "gedigai".
Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu terbaca "au". Seperti "gedigu" (begitu) terbaca "gedigau", "asu" terbaca "asau", "awu" terbaca "awau".
Lafal konsonan [k] untuk konsonan [q]. Di Bahasa Jawa, terutama pada leksikon berakhiran huruf "k" selalu dilafalkan dengan glottal "q". Sedangkan di Bahasa Jawa Osing, justru tetap terbaca "k" yang artinya konsonan hambat velar. antara lain "apik" terbaca "apiK", "manuk", terbaca "manuK" dan seterusnya.
Konsonan glotal [q] yang di Bahasa Jawa justru tidak ada seperti kata [piro'], [kiwo'] dan demikian seterusnya. Palatalisasi [y]. Dalam Bahasa Jawa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [pa], [da], [wa]. Seperti "bapak" dilafalkan "byapak", "uwak" dilafalkan "uwyak", "embah" dilafalkan "embyah", "Banyuwangi" dilafalkan "byanyuwangai", "dhawuk" dibaca "dyawuk".
Varian Bahasa Using
Bahasa Jawa Using mempunyai banyak kesamaan dan memiliki kosakata Bahasa Jawa Kuna yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri terdapat variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat disitu. Varian yang dianggap Kunoan terdapat utamanya diwilayah "Giri","Glagah" dan "Licin", dimana bahasa Using disana masih dianggap murni. Perbedaaan variasi bahasa using tergantung letak wilayahnya. Karena banyak juga terdapat perbedaan yang sangat jauh walaupun letak daerahnya berdekatan. Misalkan bahasa using di wilayah Rogojampi berbeda dalam fonologinya dengan wilayah lain, yaitu selalu menggunakan akhiran “o” dalam setiap akhir kata. Sebagai contoh adalah “isun mari madhyang’o” yang bagi masyarakat Rogojampi dianggap sebagai lafal pembeda dari using yang lainnya. Hal ini terjadi karena interaksi dengan orang-orang Cina dan Arab yang banyak hidup berdampingan dengan orang Using di wilayah Rogojampi. Meskipun begitu sebagai sesama orang Using akan saling mengerti maksud kata-kata dari tiap lafal yang berbeda tersebut.
Gaya Penggunaan Bahasa
Di kalangan masyarakat Using, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama lain ternyata tidak saling berhubungan. Yakni Cara Using dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya Bahasa Jawa umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya :
Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal. akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya masyarakat Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya untuk acara pertemuan menjelang perkawinan.
Kosakata
Kosakata Bahasa Jawa Using berakar langsung dari bahasa Jawa Kuna, dimana banyak kata-kata kuna masih ditemukan disana, disamping itu, pengaruh Bahasa Bali juga sedikit signifikan terlihat dalam bahasa ini. Seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).
Pengaruh Bahasa Inggris juga masuk kedalam bahasa ini melalui para tuan tanah yang pernah tinggal dikawasan tersebut, seperti dalam kata :
• Sulung dari kata so long namun bermakna duluan
• Nagud dari kata no good bermakna jelek
• Ngepos dari kata pause bermakna berhenti
• Kekel dari kata cackle bermakna tertawa terpingkal-pingkal
Longdres dari kata long dress bermakna daster.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Asal Usul Kota BANYUWANGI
Nah, ini salah satu cerita kebanggan anak-anak Banyuwangi. Bumi Blambangan yang telah diwarisi oleh leluhur Majapahit. Haduh Bu TRi (guru sejarahku di SMAN 1 Glagah) kalau ada yang salah nilai saya jangan dikurangi ya bu!. Hehehe... Salah satu Kota di ujung timur pulau Jawa. Bernama BANYUWANGI.Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu.
“Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya.
Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.
“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya.
“Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya.
Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya.
“Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya.
Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.
“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya.
Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu.
“Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang.
“Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum.
Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya.
“Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”.
“Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh.
Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya.
Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.
Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping.
Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati.
“Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping.
“Tuanku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu.
“Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan.
“Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya.
“ Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.
”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati.
Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya.
“Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong..
“Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati.
Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar.
“Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang.
Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi.
Dan konon sampai kini air yang berbau harum itu masih tersimpan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan yang juga merupakan Rumah Dinas Bupati Banyuwangi.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Gandrung Banyuwaangi
Asal Usul Gandrung Banyuwangi 
Pada suatu penyelenggaraan upacara di Istana Majapahit, sering dipentaskan suatu bentuk tarian istana yang dikenal dengan istilah “Juru Angin” Angin yaitu seorang wanita menari sambil menyanyi dengan sangat menarik. Penari tersebut diikuti oleh seorang “Buyut” yaitu seorang pria tua berfungsi sebagai punokawan penari Juru Angin tersebut.
Bentuk tarian inilah yang mungkin sebagai prototype suatu bentuk kesenian yang sekarang dikenal dengan “Gandrung”. Hal ini dapat diasumsikan dari bentuk penampilan penari
Gandrung yang selalu diikuti oleh seorang pemain Kluncing atau lebih dikenal sebagai pengudang. Pengudang ini selalu memberikan lawakan-lawakan sehubungan dengan tarian yang dibawakan oleh penari Gandrung. Sebagaimana dimaklumi bahwa pada jaman kehidupan kerajaan-kerajaan maka daerah yang jauh dari pusat kerajaan, perkembangan seni budayanya mengikuti pola seni budaya pusat. Dalam masa perkembangannya sampai tahun 1890 di daerah Blambangan berkembang bentuk kesenian Gandrung yang penarinya terdiri dari anak laki-laki berumur antara 7 sampai 16 tahun berperan sebagai penari gandrung dengan berpakaian wanita. Pementasan seni gandrung laki-laki pada masa itu dilakukan dengan jalan keliling desa-desa kemudian penari tersebut mendapatkan mantra. Gamelan pengiringnya terdiri dari gendang, kethuk, biola, gong dan kluncing. Penari gandrung laki-laki yang lain hanya mampu bertahan sampai 40. tahun dan memilih sebagai penari gandrung sampai akhir hayatnya. Pemilihan partner penarinya dilakukan dengan melemparkan ujung sampur kepada penonton yang mengelilinginya. Biasanya diawali dari Bagian Barat, Timur, Selatan dan kemudian Utara. Pelaksanaan pementasannya biasanya dilakukan pada malam hari terutama pada bulan purnama di halaman terbuka. Penari Gandrung pria pernah ditampilkan berjumlah empat orang penari secara bersama-sama.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 1 komentar
Gajah Uling Lambang Kekuatan
Batik Gajah Uling
Batik Gajah uling melambangkan sesuatu kekuatan, yang tumbuh dari dalam jati diri masyarakat Banyuwangi. Pemaknaannya berkaitan dengan karakter masyarakat yang bersifat religius. Dengan penyebutan Gajah Eling, yang artinya eling (mengingat) kemahabesaran sang pencipta adalah sebuah jalan terbaik dalam menjalani hidup masyarakat Banyuwangi.
Selain itu, adanya keterkaitan dengan sosok misteri pada sejarah Blambangan. Penaklukan Blambangan oleh Mataram, yakni pada masa Sultan Agung Hanyokro Kusumo (1613-1645 M). Dimana kekusaan Mataram inilah banyak kawula Blambangan yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram Islam di Plered, Kotagede.
Mereka banyak yang belajar membatik di Keraton Mataram Islam.
Sejarah batik sudah dikenal oleh tradisi keratin di Jawa sejak abad 15. Khususnnya pada pemerintahan Sultan Agung. Setelah perkembangan zaman terjadi kepentingan politik mutualisme, dengan menetapkan tradisi membatik sebagai sebuah tradisi sebuah identitas. Penguasaan terhadap budaya yang dilingkupinya. Menariknya, sosok batik khas Banyuwangi tidak terpengaruh unsur Mataram atau pun
Kurang gregetnya batik di Banyuwangi bukan berarti Banyuwangi tidak memiliki nilai estetika ragam hias arsitektural atau ragam hias ornamental. Justru menumbuh kembangkan batik Banyuwangi berarti menggali kembali segi atau nilai estetika Blambangan yang tersebar pada tinggalan Arkeologi yang ada.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 2 komentar
SEKILAS TENTANG BANYUWANGI
Sejarah

Sejarah Banyuwangi tidak terlepas daripada sejarah Kerajaan Blambangan. Pada pertengahan abad ke-17, Banyuwangi merupakan sebahagian daripada Kerajaan Blambangan yang diketuai oleh Pangeran Tawang Alun. Pada masa itu, Syarikat Hindia Timur Belanda (SHTB) menganggap Blambangan sebagai salah satu wilayah kekuasannya dari segi pentadbiran, atas dasar penyerahan kekuasaan bahagian timur Jawa (termasuk Blambangan) oleh Pakubuwono II kepada SHTB. Namun SHTB tidak pernah benar-benar menggunakan kuasanya sehingga akhir abad ke-17 apabila pemerintah Inggeris menjalin hubungan perdagangan dengan Kerajaan Blambangan. Daerah yang sekarang dikenali sebagai Komplek Inggeris ialah tempat Syarikat Hindia Timur Belanda (SHTB) bergerak dengan segera untuk menuntut kekuasaanya ke atas Blambangan pada akhir abad ke-17 dan dengan itu, mengakibatkan perang besar selama lima tahun (1767-1772). Dalam peperangan itu, terdapat satu pertempuran yang dahsyat yang disebut Puputan Bayu kerana ia merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan diri daripada belenggu SHTB. Pertempuran Puputan Bayu berlaku pada 18 Disember 1771 yang akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Banyuwangi. Namun pada akhirnya, SHTB-lah yang mencapai kemenangan dengan dilantiknya R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai bupati Banyuwangi yang pertama dan dengan itu, menandakan kejatuhan kerajaan Blambangan. Geografi Banyuwangi ialah kabupaten yang terbesar di Jawa Timur. Wilayahnya cukup beragam, dari dataran yang rendah sehingga pergunungan yang tinggi. Di kawasan yang menyempadani Kabupaten Bondowoso, terdapat rangkaian Dataran Tinggi Ijen yang merangkumi Gunung Raung (3,282 meter) serta Gunung Merapi (2,800 meter), kedua-duanya gunung berapi yang aktif. Di bahagian selatan Kabupaten Banyuwangi terdapat perkebunan, peninggalan zaman Hindia-Belanda. Bahagian selatan yang menyempadani Kabupaten Jember merupakan kawasan pemuliharaan yang kini dilindungi oleh Simpanan Semula Jadi Meru Betiri, manakala di Semenanjung Blambangan juga terdapat simpanan semula jadi Taman Negara Alas Purwo. Pantai Sukamade merupakan sebuah kawasan pengembangan penyu. Selain itu, pantai timur Banyuwangi (Selat Bali) merupakan salah satu pengeluar ikan yang terbesar di Jawa Timur. Terdapat juga sebuah pelabuhan perikanan di Muncar. Pembahagian pentadbiran Kabupaten Banyuwangi terdiri daripada 24 buah kecamatan, yang dibahagikan pula kepada sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahannya di Kecamatan Banyuwangi. Demografi Penduduk Banyuwangi cukup beragam, dengan suku Osing merupakan golongan majoriti. Namun terdapat juga suku Madura dan suku Jawa yang cukup besar, serta golongan-golongan minoriti seperti suku Bali dan suku Bugis. Suku Osing merupakan penduduk asli kabupaten Banyuwangi dan biasanya dianggap sebagai sebuah subsuku daripada suku Jawa. Mereka menggunakan bahasa Osing yang dikenali sebagai salah satu jenis bahasa Jawa yang tertua. Seni asli Banyuwangi termasuk kuntulan, gandrung, jaranan, barong, janger dan seblang. Bahasa dan budaya suku Osing banyak dipengaruhi oleh bahasa dan budaya Bali. Pengangkutan Jauhnya ibu kota Kabupaten Banyuwangi 239 kilometer di sebelah timur Kota Surabaya. Kota Banyuwangi merupakan hujung paling timur Jalur Pantura, serta titik landasan kereta api yang paling timur di Pulau Jawa.(dan yang terakhir di pulau Jawa) Dari Surabaya, Kabupaten Banyuwangi dapat dicapai melalui dua batang lebuh raya, iaitu Jalur Utara dan Jalur Selatan. Jalur Utara merupakan sebahagian Jalur Pantura yang membentang Daru Ujung Kulon sehingga Pelabuhan Ketapang, manakala Jalur Selatan merupakan cabang Jalur Pantura dari Kabupaten Pasuruan melewati Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Jember. Pelabuhan Ketapang terletak di bahagian utara kota Banyuwangi, dan menghubungkan Jawa dengan Bali melalui feri. (deket ma rumah vv euy!!!) Kebudayaan Selain daripada merupakan daerah perlintasan dari Jawa ke Bali, Kabupaten Banyuwangi juga merupakan daerah pertemuan untuk berbagai-bagai jenis kebudayaan daripada berbagai-bagai wilayah. Budaya masyarakat Banyuwangi diwarnai oleh kebudayaan Jawa, Bali, Madura, Melayu, dan Eropah yang akhirnya membentuk sebuah kebudayaan tempatan yang tidak pernah ditemui di mana-mana wilayah di Pulau Jawa. Seni tradisional Seni tradisional khas Banyuwangi termasuk: * Gandrung Banyuwangi * Mocopatan Pacul Goang Jenis kesenian tadi merupakan sebagian dari kesenian khas Banyuwangi yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat setempat. Muzik khas Banyuwangi Gamelan Banyuwangi yang khususnya digunakan dalam tarian Gandrung memiliki keistimewaan tersendiri, dengan adanya dua buah biola yang salah satunya dijadikan pemimpin lagu. Menurut sejarahnya, seorang Eropah menyaksikan pertunjukan Gandrung yang diiringi dengan suling pada sekitar abad ke-19 dan mencuba menyelaraskannya dengan biola yang dibawanya. Irama yang dihasilkan oleh biola menyayat hati para penonton dan sejak itu, biola mulai menggantikan suling kerana ia dapat menghasilkan nada-nada yang tinggi yang tidak dapat dihasilkan oleh suling. Alat-alat muzik tradisional yang digunakan untuk gamelan Banyuwangi adalah seperti yang berikut: * Kluncing, iaitu alat muzik berbentuk segi tiga yang diperbuat daripada kawat besi tebal, dan dibunyikan dengan alat pemukul yang diperbuat daripada bahan yang sama. Selain daripada gamelan untuk tarian Gandrung ini, gamelan yang digunakan untuk pertunjukan Angklung Caruk agak berbeza dengan gamelan Gandrung kerana adanya angklung buluh yang dilaraskan, sesuai tinggi nadanya. Untuk gamelan patrol, semua alat muziknya diperbuat daripada buluh manakala untuk pertunjukan Janger, digunakan gamelan Bali dan Rengganis, gamelan Jawa yang lengkap. Khususnya seni Hadrah Kunthulan menggunakan rebana, beduk, kendhang, biola dan kekadangnya bonang (dipanggil “reong” dalam gamelan Bali).
pejabat perdagangan pemerintah Inggeris.
* Seblang
* Janger
* Rengganis
* Hadrah Kunthulan
* Patrol
* Jaranan Butho
* Barong
* Kebo-Keboan
* Angklung Caruk
* Gedhogan
* Kendhang yang hampir serupa dengan kendhang yang digunakan dalam gamelan Sunda dan Bali. Biasanya berjumlah satu atau dua, fungsi khendhang ialah sebagai pemimpin muzik.
* Kethuk yang diperbuat daripada besi berjumlah dua buah dan dibuat dengan berbagai-bagai ukuran, sesuai dengan larasannya. “Kethuk estri” (feminin) adalah yang besar, dan dalam gamelan Jawa dipanggil Slendro, manakala “kethuk jaler” (maskulin) dilaraskan lebih tinggi satu not. Fungsi kethuk di sini bukan sekadar sebagai alat penguat atau penjaga irama seperti dalam gamelan Jawa, tetapi ia juga bergabung dengan kluncing untuk mengikut irama kendhang.
* Kempul dalam gamelan Banyuwangi (khususnya Gandrung) hanya terdiri daripada sebuah alat gong besi yang kekadang diselingi dengan “saron bali” dan angklung.
Posted in About Banyuwangi by Vindie Caroline | 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)

