Golek" nang kene!!!!

Perang Bangkat  

Masyarakat asli Banyuwangi punya cara unik dalam melangsungkan prosesi pernikahan. Mereka selalu melakukan tradisi perang bangkat. Tapi, jangan salah perangnya tidak seperti Perang pangeran Diponegoro dengan cara gerilya ataupun Perang Arek-arek Suroboyo menumpas Sekutu. Perangnya sebagai berikut.

”Soraaaak......, ayo maju!” tegas ketua rombongan mempelai pria saat berjalan mendekati rumah pengantin putri. Dengan membawa berbagai kebutuhan rumah tangga, iring-iringan rombongan mempelai pria itu terus bergerak. Setiba di dekat rumah pengantin putri, mereka dihadang oleh jambangan (terpasang selembar kain jarit yang diibaratkan sebagai gerbang).
Dari dalam gerbang, salah satu keluarga pengantin putri yang jadi penjaga gerbang menanyakan keperluan datangnya rombongan tidak dikenal itu. Begitu dijawab bahwa maksud kedatangannya adalah melamar sang putri, penjaga gerbang itu langsung ma rah dan menolak mereka. ”Kami akan tetap melamar sang putri,” tegas ketua rombongan pengantin pria.
Penjaga gerbang dan ketua rombongan pengantin putri, sempat adu mulut. Hingga akhirnya, keduanya bertarung (perang) dengan menggunakan berbagai senjata. Tapi senjatanya bukan senjata yang lazim digunakan untuk berperang. Mereka menggunakan senjata alat dapur seperti irus (sendok untuk kuah), siwur (gayung), kelapa, telur dan bahkan ayam hidup. Dalam perang ini, pihak penjaga gerbang ternyata kalah. ”Kalau begitu, lamaran saya terima. Tapi, kami minta syarat,” pinta penaga gerbang itu.
Sebagai syarat, ketua rombongan lalu menyerahkan berbagai ’upeti’ seperti kasur dan bantal, kembang pancawarna, wanci kinangan, wanci kendi, dan sebagainya. ”Semua ini, kami serahkan untuk sang putri sebagai syarat,” cetus ketua rombongan mempelai pria. Perang bangkat diakhiri dengan dipertemukan pasangan pengantin. Keduanya diminta untuk bersalaman sambil didoakan oleh sesepuh suku Using. Prosesi ini mirip dengan proses ijab dan kabul. Tapi bukan ijab dan kabul lho!!! Ini hanya tradisi.
Sekilas pelaksanaan perang bangkat yang menjadi tradisi khusus suku Using pada pernikahan. Dalam upacara itu, peran ketua rombongan dan penjaga gerbang dilakukan sesepuh Suku Using yang dianggap memiliki kelebihan tertentu.
Pernikahan yang diharuskan melaksanakan tradisi eprang bangkat ini, ternyata hanya berlangsung dalam kondisi tertentu saja. Bila kedua pasangan pengantin itu sama-sama anak sulung atau bungsu, maka perang bangkat harus dilaksanakan, atau sulung dapat anak bungsu.
Upacara tradisi perang bangkat ini, semuanya berupa simbol-simbol. Alat perang berupa irus, siwur, kelapa dan telur menjadi simbol agar pasangan pengantin ini bisa langgeng. ”Irus” maksudnya pasangan pengantin harus terus sampai kakek-nenek hingga meninggal, sedang ”siwur” itu maksudnya kalau ngomong jngan ngawur (asal).
Entah sejak kapan upacara atau ritual perang bangkat dilaksanakan, yang jelas prosesi ini sudah menjadi tradisi turun temurun. Perang bangkat ini diibaratkan seperti tolak balak, kalau tidak melakukan biasanya pasangsan pengantin akan banyak godaan dan rintangan.

AddThis Social Bookmark Button


0 komentar: to “ Perang Bangkat

Posting Komentar

 

Design by Amanda @ Blogger Buster